post image
Ilustrasi generasi muda (Foto: Free-Photos/Pixabay)
KOMENTAR

Pada tahun 2019, World Health Organisation (WHO) resmi memasukkan burnout sebagai salah satu gangguan mental dan terdaftar dalam International Classifacation of Diseases. Adapun burnout, menurut WHO, merupakan gangguan psikologis yang muncul karena lingkungan kerja tidak kondusif sehingga memunculkan rasa lelah, perasaan sinis, pola pikir negatif, dan ketidakmampuan menuntaskan pekerjaan secara maksimal.

Dilansir Tirto.id, burnout dialami oleh milenial yang berusia 22 tahun hingga 38 tahun di berbagai benua, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Kisah-kisah mengenai orang yang mengalami gangguan burnout pun ramai dibicarakan sejak tahun 2019. Melihat fenomena ini, WHO pun menilai burnout sebagai permasalahan yang serius.

Anne Helen Petersen, jurnalis Buzzfeed, merilis laporan bertajuk How Millenials Becamee The Burnout Generation. Laporan yang dibuat pada tahun 2019 ini mengatakan, salah satu penyebab milenial merasa harus memiliki karier tertentu, sukses, dan kaya raya adalah tekanan, disadari atau tidak, dari orangtua.

Tidak sedikit yang menanggap bahwa milenial bisa mencapai kualitas hidup yang sama atau bahkan lebih baik dari orang tua mereka. Padahal, kondisi sosial, politik, dan finansial yang tak lagi sama membuat milenial sukar untuk mengambil jalan hidup yang sama dengan generasi sebelumnya.

“Kita tidak memiliki tabungan sebanyak mereka, lebih tidak stabil, dan punya lebih banyak utang,” ujar Petersen, dikutip dari Tirto.id. “Sekarang mustahil bila kita cuma punya gelar diploma tapi berharap bisa punya pekerjaan baik dan pensiun di usia 65,” imbuhnya.

Harapan generasi sebelumnya membuat para milenial harus berusaha sangat keras untuk memiliki karier yang mapan, gaji yang besar, dan dipandang keren oleh masyarakat. Padahal, hal tersebut sulit dicapai oleh milenial di AS, Inggris, dan Asia setelah krisis ekonomi di tahun 2008, sebagaimana dilansir dari Tirto.id.

Petersen pun mengatakan perempuan lebih berpotensi mengalami burnout setelah menikah dan berkeluarga. Tuntutan untuk menyelesaikan pekerjaan domestik dan pekerjaan di kantor membuat perempuan rentan mengalami burnout. Bagi Petersen, menjadi dewasa berarti mampu memenuhi tuntutan to do list yang tidak kunjung habis.

Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi burnout? Tim Wu, penulis The Attention Merchants: The Epic Struggle to Get Inside Our Heads, menyebut hobi bisa membuat seseorang terbebas dari burn out dan merasa lebih rileks karena hobi dilakukan berdasarkan kesukaan dan tanpa paksaan.

Sementara itu, Petersen menyebut solusi terbaik dari burnout adalah jujur pada diri sendiri. Menurut Petersen, milenial harus menyadari berbagai peran dalam hidup. Memiliki hutang, kerja keras dengan upah yang sedikit, berusaha memenuhi harapan orang tua, yang akhirnya membuat milenial memiliki kondisi psikis yang rentan. Jujur pada diri sendiri dianggap sangat penting karena kita akan menyadari dengan sungguh-sungguh alasan dan kepentingan dari setiap tindakan yang ingin kita lakukan.

KOMENTAR ANDA

Tips Kerja Sehat untuk Freelancer

Sebelumnya

Serial Sherlock BBC

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Gaya Hidup