post image
novel Sabtu Bersama Bapak. (sumber foto: wordpress)
KOMENTAR

Buat para bapak dan calon bapak ada baiknya Anda sekalian membaca novel Sabtu Bersama Bapak karya Adithya Mulya. Pasalnya, novel ini kaya akan konten panduan menjadi seorang bapak sekaligus menjadi seorang suami yang baik. Bukan menjadi yang sempurna, tetapi disempurnakan.

Adithya Mulya pandai membuat pembaca larut ke dalam ceritanya. Plot cerita berkembang dengan baik dan konsisten sehingga pembaca tidak akan merasa lompatan membaca yang tidak bikin nyaman. Ibarat menuruni anak tangga, kita seolah diantarkan menuruni anak tangga satu persatu bukan menuruni dengan cara melompat satu hingga tiga anak tangga.

Alur cerita yang digunakan adalah alur maju. Pembaca tidak akan kesulitan menentukan kronologis cerita. Mulai dari prolog/pembuka cerita, konflik hingga klimaks cerita, dan epilog/penutup cerita disusun dengan rapi dan sistematis. Cerita ibarat sebuah dongeng yang membuat pembaca tinggal duduk dan mendengarkan.

Karakterisasi atau penokohan yang diterapkan oleh penulis sederhana tapi cukup solid. Tokoh utama difokuskan pada kedua tokoh anak yang ditinggal mati oleh bapaknya yang jatuh sakit. Kedua tokoh anak tersebut mewakili anak-anak yatim yang menjadi semakin kuat pada prinsip hidup ketika sosok ayah telah tiada.

Menjadi kuat dalam artian menjadi seorang lelaki yang mandiri, bertanggung jawab, serta bisa diandalkan. Semua tidak lepas berkat tokoh orang tua yang terus mendidik anaknya. Walaupun tokoh ayah telah tiada, kedua tokoh anak masih bisa mendapat petuah dan didikan dari sang ayah melalui rekaman video yang telah dilakukan semasa hidup sang ayah.

Adapun konflik dan klimaks cerita berfokus pada problematika kehidupan sebagai seorang laki-laki dan seorang ayah. Tokoh utama, yakni kedua tokoh anak, mengalami masalah mengenai pekerjaan, keluarga, dan pasangan. Sang kakak yang telah berkeluarga terlalu sibuk sehingga lupa membagi waktu untuk anak dan istri di rumah yang menantikan kepulangannya.

Sementara itu, sang adik tak kunjung menikah sebab kesulitan mencari pasangan walaupun telah memperoleh pekerjaan yang mapan. Klimaks cerita adalah tentang harmonisasi antara pekerjaan dan keluarga. Melalui konflik dan klimaks inilah, penulis berkhotbah kiat-kiat untuk menjadi seorang ayah, seorang anak, sekaligus seorang lelaki yang baik.

Selain itu, diceritakan pula bagaimana bersikap menentukan prioritas antara pekerjaan dan keluarga. Semua dituangkan oleh penulis juga penyelesaiannya menentukan pilihan yang tepat.

Karena bahasa yang digunakan cukup sederhana dan merupakan bahasa sehari-hari, pembaca akan mudah mencerna cerita. Pembaca tidak akan menyadari ia telah membaca sekian halaman atau sekian puluh halaman seolah halaman buku telah disihir oleh penulis agar berubah dengan cepat. Pengemasan yang menarik dan asyik membuat buku ini wajib dibaca oleh banyak kalangan.

KOMENTAR ANDA

Peringati Peristiwa G30S, Ini 5 Fakta PKI yang Perlu Diketahui

Sebelumnya

Bukan Cuma Perempuan, Saintis Ungkap Laki-laki Juga Bisa "Datang Bulan"

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Sains