post image
KOMENTAR

Dua puluh tahun lalu, ketika saya baru pindah ke Bandung, saya berkenalan dengan Ba-be. Saya tahu bahwa orang menjual barang bekas seperti lemari dan elektronik, akan tetapi waktu itu saya tidak menyangka bahwa orang akan menjual baju, tas dan sepatu juga di Ba-be. Berikutnya saya hobi hunting pakaian bekas, yang kalau beruntung, bisa dapat pakaian bagus dengan harga sangat murah.

Pre-loved memiliki pasarnya sendiri dalam persaingan industri fashion di pasar global. Jika dahulu orang menitipkan barangnya di toko sejenis Ba-be, saat ini sudah banyak bermunculan bazaar pre-loved dimana pemilik barang dan pembeli dapat bertatap muka secara langsung dan melakukan tawar menawar harga. Jika dulu konsumen berbangga dengan produk KW, saat ini juga muncul kebanggaan jika mampu mendapat barang second dengan harga miring.

Hal menarik lain dari trend pre-loved adalah upaya penyelamatan lingkungan. Semakin tinggi perputaran di pasar pre-loved, semakin rendah keinginan konsumen membeli barang baru, tingkat produksi juga bisa ditekan dan kerusakan lingkungan karena industri fashion juga dapat menurun. Ini tentu asumsi kasar dan ideal. Kita tahu kapitalisme global tidak ramah lingkungan punya strateginya sendiri. Tapi sebagai sebuah tawaran penyelamatan lingkungan, trend pre-loved dapat dipertimbangkan.

Sepasang pakaian dalam berlabel Victoria Secret dibanderol dengan harga dua juta rupiah setelah sale tujuh puluh persen. Sementara sandang adalah kebutuhan primer, Victoria Secret menjadikannya tersier. Ide menjual pakaian bekas layak pakai dapat bermanfaat bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Alih-alih menyumbangkan dan menimbulkan perasaan tidak enak bagi yang menerima, menjual pakaian dengan kondisi baik dengan harga lima ribu rupiah tentu akan menjadi transaksi yang setara antara penjual dan pembeli.

Kita sudah sulit membedakan antara keinginan, kebutuhan, dan kemampuan memenuhi keduanya. Sebagai pengguna kartu kredit, saya sering jatuh pada jebakan potongan harga dan fasilitas cicilan. Serta ilusi tentang keuntungan: untung beli pas lagi diskon. Pre-loved adalah budaya baru. Yang mungkin, satu tahap lagi menuju budaya tidak konsumtif.

KOMENTAR ANDA

Dosen FKG Unpad Beri Tips Obati Sakit Gigi yang Bisa Dilakukan Sendiri

Sebelumnya

5 Jenis Sayuran Hijau Paling Sehat

Berikutnya

Artikel Gaya Hidup