post image
KOMENTAR

Dengan akurasi 84 persen -- di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang hanya 80 persen -- produk rapid test berbasis antigen Si CePad buatan tim peneliti Universitas Padjadjaran memperkuat ekosistem perang melawan penyebaran Covid-19 di tanah air.

Demikian antara lain disampaikan Direktur Inovasi dan Koorporasi Unpad, Diana Sari, ketika memperkenalkan Si CePad di Media Center IKA Unpad di Sekretariat IKA Unpad, Jalan. Singaperbangsa, Bandung, Sabtu (9/1).

"Si CePad mendeteksi molekul antigen sehingga lebih cepat mengidentifikasikan keberadaan virus pada tubuh tanpa harus menunggu pembentukan antibodi," katanya.

Si CePad diproduksi oleh mitra industri Tim Peneliti Diagnostik Covid-19 Unpad, yaitu PT Pakar Biomedika Indonesia. Alat ini sudah mendapatkan rekomendasi dari WHO dan Perhimpunan Patologi Klinis Indonesia serta telah diizinkan untuk beredar oleh Kementrian Kesehatan sejak 4 November 2020.

Rapid Test 2.0 merupakan alat rapid test yang dikembangkan untuk mendeteksi keberadaan virus (antigen) dalam tubuh. Keunggulan produk ini adalah lebih murah, akurat, mudah digunakan, cepat, dan bisa didistribusikan ke pelosok daerah.

Sebagian besar komponen produk ini dikembangkan di dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan impor dan ketersediaan bahan baku.

"Unpad bermitra dengan PT Tekad Mandiri Citra yang berkomitmen memproduksi antibodi sebagai salah satu komponen utamanya. Juga PT Pakar Biomedika Indonesia yang telah memiliki kapasitas, pengalaman, dan izin produksi rapid test di dalam negeri," kata Diana lagi.

Berbeda dengan tes diagnostik cepat berbasis teknik resonansi plasmon atau Surface Plasmon Resonance (SPR) yang fokus mendeteksi antigen, yaitu SARS-Cov-2, virus penyebab Covid-19.

Artinya, dicari adalah kode genetik yang spesifik kemudian gen spesifik itu diperbanyak dan akan ketahuan ada tidaknya virus disitu, jadi yang dideteksi itu adalah gen-nya yang merepresentasikan adanya virus. Namun, kalau SPR yang dideteksi adalah partikel virusnya.

Tes CePAD dikembangkan untuk menengahi keterbatasan uji PCR sebagai standar emas dalam pendeteksian Covid-19. Di sisi lain, hasil dari tes PCR memerlukan waktu yang cukup lama untuk keluar sehingga produk CePAD diharapkan dapat mempersingkat masa tunggu tersebut.

"Hasil dari tes CePAD relatif cepat, yaitu sekitar 15 menit dengan tingkat akurasi yang tinggi. Karena mampu mendeteksi virus saat viral load-nya tinggi, tes CePAD mampu mendeteksi orang yang rentan menularkan virus corona ke orang lain sehingga diharapkan mampu menekan penularan Covid-19," jelasnya.

Adapun Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) Irawati Hermawan mendukung si CePad dalam mencegah penyebaran Virus Corona-19 atau Covid-19. Demikian diungkapkan Ketua IKA Unpad, Irawati Hermawan.

"Adanya inovasi ini makin menguatkan peran Unpad sebagai lembaga pendidikan yang terus berupaya memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi pandemi," ujarnya.

Teh Ira sapaan Ketua IKA Unpad menambahkan, sebagai bagian dari kegiatan Bakti Inovasi, pada Desember 2020, Kemenristek sudah membeli alat ini sebanyak 3.000 kit dan didistribusikan kepada RS Hasan Sadikin dan RS Pendidikan Unpad. Saat ini, akan diproduksi massal untuk penggunaan di Jawa Barat.

"Si CePad adalah inovasi anak negeri. Selain tingkat akurasi yang tinggi, secara harga pun jauh lebih murah dibanding dengan alat PCR import yang saat ini digunakan. Harga eceran Si CePad adalah Rp120.000," tambahnya

Berkenaan dengan dibukanya Media Center IKA Unpad, ia berharap akan menjadi tempat untuk menjembatani komunikasi antara pengurus IKA Unpad dengan media dalam memberikan informasi kepada publik.

“IKA Unpad akan terus berupaya dan bersinergi dengan Unpad dan juga berbagai pihak dalam  membangun negeri. Untuk itu, kami berharap agar sinergi dan kolaborasi dengan media terus terjalin sehingga akan bersama memberikan manfaat untuk bersama-sama memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua IKA Unpad Arief Suditomo mengatakan bahwa alat ini sangat dibutuhkan saat pandemi Covid-19. Selain itu, sebagai upaya para alumni Unpad dalam menghadapi situasi serba sulit saat ini. Meskipun ada vaksin Covid-19, inovasi dan usaha maksimal lainnya harus tetap dilakukan.

"Persembahan ini akan terus kita berikan bagi bangsa. Waktu tidak akan membatasi kita dengan kampus yang sudah kita tinggalkan selama puluhan tahun, tapi kita akan tetap berkontribusi dalam hal positif lainnya. Kami yakin IKA Unpad punya banyak potensi dan masih banyak manfaat kita sebagai alumni Unpad," demikian Arief Suditomo.

KOMENTAR ANDA

IKA Unpad di Puncak Sibayak

Sebelumnya

Ketua ICCIA: Hadapi Pandemi Covid-19, Tak Ada Ruang untuk Pesimis

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Aktual