post image
Pendidikan merupakan jalan strategis untuk membangun mental dan pola pikir.
KOMENTAR

"Segala yang baik Saya harapkan berasal dari kaum muda. Kalian yang harus cuci piring, jangan pura-pura tidak tahu".

Kutipan kalimat di atas adalah kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer pada saat saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya secara khusus pada tahun 2000, untuk Jurnal Dialektika.

Pram mungkin sudah hatam betul bagaimana karakteristik manusia-manusia Indonesia. Dengan segala tingkah polanya, dengan segala kepengecutan, dan oportunistiknya.

Banyak karya-karya Pram yang mengambarkan watak manusia-manusia Indonesia. Baik protagonis maupun antagonis.

Melihat persoalan kebangsaan, Pram hanya bisa berharap pada generasi muda. Tentunya, generasi muda harus punya keberanian yang dilatih dari hari ke hari.

"Berani" merupakan salah satu mutu dari mentalitas. Jika dicermati, sampai hari ini pun, banyak orang Indonesia yang takut untuk mengemukakan pendapat, pemikiran atau pendiriannya. Bahkan sekadar untuk bertanya pun, banyak yang takut. Minimal enggan atau tidak tertarik.

Lihatlah fenomena di dalam kelas. Termasuk dalam perkuliahan. Kita kesampingkan dulu soal mutu pertanyaan. Hanya sekadar bertanya pun, hanya segelintir orang, dan biasanya orangnya ya, empat L (Lu lagi lu lagi).

Penyebabnya tak melulu soal tingkat pendidikan saja, tapi juga karena individualitas yang tidak terasah (faktor lingkungan) dan tidak diasah (faktor individu).

Pada paruh akhir tahun 70-an, ada pula sebuah pidato di Taman Ismail Marzuki (pidato ini kemudian menimbulkan pro dan kontra, terangkum dalam buku "Manusia Indonesia") oleh Mochtar Lubis. Mochtar menyebutkan mengenai karakteristik dasar Manusia Indonesia. Munafik, enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, feodal, percaya takhayul, artistik, dan lemah watak atau karakternya.

Meski sudah berselang puluhan tahun, tapi pemikiran Mochtar Lubis masih relevan sampai sekarang. Kita masih dapat melihat jelas watak-watak seperti itu ada di sekitar kita. Saat ini.

Mengenai lemahnya karakter, dapat terlihat dan kemudian menjadi jelas, mengapa banyak orang Indonesia yang sangat berambisi terhadap kekuasaan dan materi. Juga kepada berbagai gelar. Juga kepada gengsi (dalam hal gengsi, itu sebabnya bangsa ini menjadi pasar empuk bagi negara asing untuk menjajakan berbagai komoditinya, termasuk barang-barang yang sangat mewah, sedangkan kita tetap terus menjadi bangsa yang konsumtif).

Sebab, dengan berbagai atribut itulah kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang. Bisa mendapat "hak istimewa" di masyarakat. Lalu, saat atribut ini-itu sudah menempel pada dirinya, muncullah keinginan untuk dihormati dan dilayani.

Setelah tak menyandang berbagai atribut ini-itu, muncul gejala post power syndrom. Menjadi sensi dan baperan. Lalu sakit-sakitan. Sedangkan orang-orang yang dulu mendekati, menjilat, cari muka, telah menjauh dan mencari "korban" lainnya.

Begitulah jika orang mengidap kekurangan yang bernama lemah karakter. Tidak bisa mengatakan "tidak" kepada atasan. Mengingkari nurani, mengingkari kebenaran.

Dulu, ada istilah untuk fenomena sosial ini: ABS-Asal Bapak Senang. Pola pikir dan mental, tak pelak lagi merupakan persoalan mendasar bangsa ini sekaligus merupakan kunci untuk menjawab berbagai persoalan kebangsaan. Dan, pendidikan, dalam ragam bentuknya, secara strategis merupakan jalan untuk mengevaluasi sekaligus mewujudkan apa yang kita idealkan bersama.

"Mencuci piring kotor", istilah Pram. Pertanyaannya, sudahkah pendidikan kita berada pada jalur yang benar dan tepat?

KOMENTAR ANDA

Kelebihan dan Kekurangan 3 Alat Tes Corona di Indonesia. Rapid Test Tidak Akurat?

Sebelumnya

Kuda Renggong, Atraksi Seni dari Sumedang

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Aktual