post image
Ilustrasi. /voxntt
KOMENTAR

Ia terdampar di sebuah pulau dengan nama yang sulit diucap kedua bibirnya; 

Ia terkepung di dalam luka yang tak diberikan daya walau hanya meneguk setetes air; 

Ia terjatuh di sebuah jurang kekhilapan yang tak jua berarah; 

Ia terbengkalai di bawah mulut langit yang membesar menjadi Tuan. 

 

Pada suatu hari nanti, ia akan terbang dengan sepasang sayap di kelingkingnya;

Pada suatu hari nanti, ia akan membakar semua aral yang menerjanng kerapuhannya;

Pada suatu hari nanti, ibu jarinya akan melepuh dan memintanya menghapus sakit di dalam hatinya;

Pada suatu hari nanti, gunung akan mengambil tubuhnya pada sebatang kayu yang mengapung dilautan.

 

Ketika ia turun, Mikaela akan hidup dengan sebongkah keberkahan;

Ketika ia pulang, Mikaela akan menangis haru dengan sejuta rindu pada malamnya;

Ketika ia cemas, Mikaela akan memberi warna hujan bagi tubuhnya sehingga rindu tak berdaya menyatu menjadi tawa;

Ketika ia sendu, Mikaela akan memberi senyum di garis sungging bbibirnya. 

 

Kemudian ia terbang namun terjatuh berulang kali,

Ia berjalan dengan kesepian tanpa teman dan detak nadi dalam tubuhnya;

Ia tidak pernah berharap untuk berhenti di peraduan kota;

Ia tetap berjalan menembus luasnya samudera dan purnama;

Ia menaiki sebagian kecil dari luasnya duni;

Ia terjungkal dan terbangun dan terdiam.

 

Mendongak dan melihat satu purnama, terkapar dan melihat bintang.

Katanya, "Aku tidak bertanya kapan aku sampai, Tuhan!"

KOMENTAR ANDA

"Seandainya Tuan Datang Lebih Awal?"

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Rumentang Siang