post image
Samudera Antartika (Foto: Pixabay)
KOMENTAR

Seperti yang kita tahu, kualitas udara sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Semakin bersih udara di suatu wilayah, maka semakin baik kualitas hidup di dalamnya. Bukan hanya manusia saja yang akan mendapatkan manfaatnya, tapi juga ekosistem yang ada di wilayah itupun akan merasakan hal yang sama.

Sayangnya, saat ini kita lebih sering disuguhkan kabar mengenai buruknya kualitas udara di berbagai tempat di dunia. Penyebab utamanya, kalau bukan satu-satunya, tentu saja aktivitas manusia yang terus-menerus mencemari lingkungan tempat dirinya dan seluruh makhluk lainnya hidup. Berbagai studi mencatat, kondisi ini terus memburuk sejak Revolusi Industri terjadi.

Namun, di tengah gencarnya pemberitaan mengenai kerusakan lingkungan hidup termasuk buruknya kualitas udara, sekelompok peneliti dari Department of Atmospheric Science, Colorado State University, berhasil menemukan area atmosfer yang dinamakan lapisan udara batas di Samudra Antartika yang tidak berubah oleh aktivitas manusia. kondisi itu langsung menjadikan area tersebut sebagai tempat dengan udara terbersih di dunia saat ini.

Dengan kapal investigasi, para ilmuwan berlayar dari Tasmania menuju lapisan es Antartika untuk mengambil sampel udara yang ada di wilayah tersebut. Mereka menguji sampel udara yang didapat dengan mengukur komposisi bioaerosol dan partikel apa saja yang terdapat di udara. Hasilnya sangat membahagiakan, udara di wilayah itu tidak memiliki partikel hasil dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar.

Dilansir dari National Geographic Indonesia, Thomas Hill, salah seorang peneliti yang terlibat menyatakan, “Kami berhasil menggunakan bakteri di udara di atas Southern Ocean (SO) sebagai alat diagnostik untuk menyimpulkan sifat-sifat utama dari atmosfer yang lebih rendah,”.

“Aerosol yang mengontrol awan SO sangat berkaitan dengan proses biologis lautan. Antartika tampaknya terisolasi dari penyebaran mikroorganisme dan pengendapan unsur hara. Secara keseluruhan, ini menyatakan bahwa Southern Ocean merupakan satu dari sedikit wilayah Bumi yang tidak terdampak aktivitas manusia,” ujar Thomas Hill, dikutip dari National Geographic Indonesia.

Tapi jika tidak ada perubahan signifikan pada aktivitas yang dilakukan manusia saat ini, sudah dapat dipastikan, lama-kelamaan udara di Southern Ocean yang mengelilingi Antartika juga akan tercemar dan berdampak buruk pada ekosistem wilayah tersebut.

Mulailah lakukan perbaikan-perbaikan kecil atas aktivitas diri sendiri, sambil terus mengupayakan perubahan-perubahan besar pada aktivitas kolektif. Jika tidak, manusia bukan hanya akan menghancurkan lingkungan hidupnya, tapi juga sedang menyiapkan kepunahannya sendiri.

KOMENTAR ANDA

57 Pelaut Argentina Terinfeksi Virus Corona di Laut, Penyebabnya Masih Menjadi Misteri

Sebelumnya

Tim Peneliti Unpad Prediksi Angka Kasus Covid-19 Terus Bertambah

Berikutnya

Artikel Aktual