post image
Kumpulan warta (sumber foto: pinterest)
KOMENTAR

di dunia yang sepi sendiri

Angka kecelakaan di Bandung meningkat
seiring menggaungnya kata-kata Walikota kita:
"Bandung bukanlah sekadar identitas geografis,
Bandung justru tempat paling baik kenangan bersarang" bersama
dengan angka kematian bunuh diri.

"Hati-hati menaruh hati pada pemuda
kota yang kerajingan politik" kataku
yang kemudian kau katai:
"Hati-hati dengan kata-kata. Ia mampu
menyayat lebih tajam ketimbang pisau
mana pun di kota kita.
Hati-hati dengan kata hati. Ia mampu
berbicara lebih jujur daripada kedua calon presiden
negara kita."

 

Hati yang tidak hati-hati membaca
kata-kata yang ada di kota kita rentan
sekali patah hati. Dan orang yang
patah hati sulit jatuh hati.

Adalah kenangan yang hadir dari bekas luka lama
untuk memberikan luka baru. Kenangan yang
dibenci ingatan, namun dicintai harapan.
Adalah kenangan yang menjelma Avanza maut
untuk mewarnai alir air hujan dengan merah darah
pada pangkal November.

"Kulihat merah semesta adalah dalang
tangannya, Kang!" kata korban kenangan yang
kuwawancarai, "aku hanya ingin merah
terakhir adalah bibirnya yang merekah
atau bibir lainnya yang setengah
terbuka dan selalu basah."

Rupanya, pada diri seorang penyair
kenangan tinggal untuk menanggalkan
usia kesehatan akal sehatnya.
Lalu, aku ikut menguburkannya
dalam kolom kata-kata harian kota
yang kau baca di dekat jendela bis kota
bersama kenangan yang tinggal di telingamu
berupa kata-kata:
"perpisahan adalah tanah lapang tempat
anak-anak bermain layang-layang, sedangkan
pertemuan kembali adalah konferensi pers KPK
yang selalu menyebut satu nama
menyerupai nama depanmu."

Bandung, Maret 2019

KOMENTAR ANDA

Senandung Algoritma

Sebelumnya

Baca Juga

Artikel Rumentang Siang