post image
40 Tahun Mira W berkarya (sumber foto: Forum Jurnalis Perempuan Indonesia).
KOMENTAR

Buku ini tidak mengandalkan cerita yang rumit. Meski tak rumit, bukan berarti buku ini tak ‘menggigit’. Cerita yang diangkat mengandalkan konflik percintaan yang akrab dijumpai di kehidupan sehari-hari. Meski terkesan pasaran, penulis mampu mengemasnya dengan baik sehingga buku ini pun sarat akan makna. Bukan sekadar mengumbar cerita cinta yang dibumbui konflik pasaran seperti perselingkuhan atau kisah cinta tak tidak direstui orang tua.

Buku karya Mira W ini berkisah tentang Riri, perempuan binal yang selalu mencuri perhatian pria, bertemu dengan Bandi, pemuda penyakitan yang hidupnya disinyalir tinggal menghitung hari. Lewat pertemuan singkat di rumah sakit, Bandi yakin bahwa Riri lah cinta pertama dan terakhirnya. Ia bertekad menikahi Riri sebelum ajalnya menjemput.

Niat suci Bandi terhalang oleh ibu dan kakaknya, Haris, yang tak menyukai Riri sejak pandangan pertama karena melihat Riri sebagai perempuan ‘nakal’. Haris bisa melihat ‘kenakalan’ Riri karena Haris pun sama ‘nakal’nya dengan Riri. Nahas, benih cinta justru tumbuh di antara dua sejoli ‘nakal’, Riri dan Haris. Benih cinta itu pun tak sekadar tumbuh, melainkan berkembang menjadi hubungan terlarang hingga melahirkan buah cinta. Tak berhenti sampai disitu, seorang perempuan tiba-tiba datang. Perempuan lugu yang awalnya terlihat tak berdaya, justru akhirnya memperkeruh suasana. Menambah panjang permasalahan antara Riri, Bandi, dan Haris.

Untuk diketahui, Mira W adalah penulis legendaris. Mira, begitu ia akrab disapa, ternyata juga seorang dokter lulusan Universitas Trisakti. Ia menyalurkan hobi menulisnya dengan mulai menulis novel berbagai genre. Namun, genre yang sering ditulisnya adalah konflik percintaan yang biasanya berujung pada perselingkuhan, seperti karyanya yang lain, Limbah Dosa. Beruntung, Mira selalu mengemasnya dengan apik sehingga tak terjebak pada cerita pasaran yang biasanya monoton. Lalu, dengan akhir cerita yang mengejutkan alias plot twist, buku karyanya menjadi semakin menarik.

Selain sinopsis, sampul dan judul buku juga menentukan apakah seseorang akan membeli buku tersebut atau tidak. Sampul yang dipilih nampaknya cukup berhasil untuk menarik perhatian karena memakai warna dominan kuning muda yang tak terlalu mencolok, menambah kesan syahdu, sesuai dengan judul yang dipilih. Sosok bayi pada sampul pun menambah daya tarik buku ini.

Di lembar-lembar awal, pembaca dibuat kebingungan dengan hubungan antara judul dengan kisah yang diangkat. Ternyata, jika dibaca dengan saksama, banyak makna dari Seandainya Aku Boleh Memilih. Memilih antara masa depan mana yang cocok, memilih antara ibu kandung yang tak selalu di sisi atau ibu tiri yang selalu menemani dan memilih antara hidup dengan yang dicintai atau hidup dengan yang mencintai. Setiap pilihan pun digadang-gadang akan ada dampaknya. Seperti yang sudah dikatakan di awal, buku ini sarat akan makna. Pesan yang ingin disampaikan pun mudah dipahami meski cukup tersirat.

Kelebihan lain dari buku ini adalah konflik yang ringan namun dikemas begitu apik sehingga klimaksnya pun dapat dirasakan. Penggabungan kisah antara keluarga, cinta, dan pendidikan menjadikan buku ini bisa dikatakan paket lengkap. Selain itu, penggambaran watak dan karakteristik tokoh cukup jelas, menambah daya pikat dari buku ini. Tokoh memang membantu mengembangkan pengisahan.

Selain konflik ringan yang dikemas dengan menarik, beberapa narasi dan percakapan di buku ini patut diacungi jempol. Terutama, bagian-bagian yang mengandung humor yang terlihat ‘receh’ namun bisa membuat pembaca sedikit tersenyum geli saat membacanya. Penggambaran suasana juga sangat jelas sehingga pembaca mudah untuk membayangkan situasi dan kondisi yang terjadi pada kisah ini.

Buku ini juga cocok dinikmati kapan saja dan di mana saja. Tidak perlu banyak meluangkan waktu untuk membaca buku ini. Lebih tepatnya, buku ini cocok untuk dijadikan hiburan di kala jenuh menghampiri. Mira nampaknya sengaja membuat buku yang praktis seperti ini.

Meski buku ini terkesan ringan sehingga mudah dipahami, namun banyak penggunaan diksi yang kurang tepat sehingga tidak nyaman dibaca.  Beberapa kata pada narasi dan percakapan dirasa kurang cocok digunakan. Selain itu, alurnya terasa begitu cepat, dari mulai perkenalan hingga terjadinya konflik sehingga membuat pembaca terkadang lupa dengan beberapa kisah pengantar sebelumnya. Ditambah lagi, ending berupa plot twist yang awalnya patut diapresiasi, ternyata terkesan dipaksakan mengingat terlalu singkat.

KOMENTAR ANDA

Irawati Hermawan: Prof. Mochtar Kusumaatmadja Sangat Layak Jadi Pahlawan Nasional

Sebelumnya

Menlu Retno: Bagi Saya Prof. Mochtar Kusumaatmadja Sudah Seorang Pahlawan

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Aktual