post image
KOMENTAR

Teman saya ngajak bertaruh sembari mengirim sebuah link berita. “Keureut ceuli urang, paling oge 5 taun saenggeus peletakan batu pertama. Mun urang bener, maneh kudu nraktir di tizi's, heueuh...?”

Link berita yang dimaksud ternyata soal usulan Kang Emil agar Unpad membangun rumah sakit di Jatinangor . Rumah Sakit Pendidikan (RSP) dan juga rumah sakit besar seperti RSHS. Dan, itu berita tahun 2019, rupanya.

Ajakan taruhan ini saya sampaikan ke teman yang lain. Ceritanya, biar yang ikutan taruhan jadi banyak. Eaalah, dia malah nanya,”Serius nih, Unpad (kampus) Jatinangor belum ada rumah sakit?”

Mulut saya baru aja mau mangap, dia udah nyerocos duluan. “UI saja sudah punya rumah sakit di Depok. Keren, loh. Bisa tes Swab segala. Cuman 2,7 jeti doang kok,” katanya.

Dari raut mukanya, sepertinya dia menuntut penjelasan kenapa Unpad begitu ketinggalan dari UI.

“Depok lebih dekat dari Jakarta. Jadi presidennya pasti lebih dulu dengar,” kata saya sekenanya memodifikasi satu dialog Soleh Solihun di film “Mau Jadi Apa?”.

Tapi, kalo dipikir-pikir, cetusan Soleh Solihun itu nggak salah-salah amat. Coba deh bayangkan.

Kalau Unpad lebih duluan punya rumah sakit di Jatinangor daripada UI di Depok, apa nggak heboh tuh. Presiden pasti akan dicerca karena ngurus yang jauh-jauh sementara yang di depan matanya dia malah nggak terperhatikan. Oposisi bakal ngegas pol. Presidennya bisa galau level 7.

Dan, bayangkan juga derita menkeunya. Kecuali sebentar di era Gus Dur, siapapun presidennya, menteri keuangannya pasti dari FEB UI. Dia pasti dinyinyirin sama kolega dan juga para mahasiswa. Bakal dianggap malin kundang atau lupa kacang pada kulitnya. Hatinya pasti terasa tersayat-sayat saking sedihnya. Bisa-bisa, belio bakal jogging seharian suntuk di hutan kota kampus Depok, sekadar untuk sejenak lari dari kenyataan.

Sudah bener banget Kang Emil mengusulkannya sekarang. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Butuh waktu untuk membangun RS PTN.

RS Univeritas Andalas, misalnya, perencanaannya sejak 2006. Peletakan batu pertama 2014. Mulai beroperasi 2017. RS Universitas Airlangga, contoh lainnya. Pemasangan tiang pancang pertamanya 2007, mulai beroperasi 2011 dengan ijin sementara. RSUI mulai dibangun pada 2013. Beroperasi terbatas pada 2018 dan setahun kemudian baru resmi melayani pasien umum.  

Selain UI,  Unair dan Unand,  ada beberapa PTN yang juga memiliki RS yang sudah bisa melayani paisen umum: UGM, Unhas, Udayana dan juga Undip (Universitas Dipenogoro ya, bukan Universitas di Padjadjaran).

Sudah bener banget Kang Emil mengusulkannya lagi sekarang. Soalnya, menurut UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, tiap FK wajib memiliki RS pendidikan. Nggak lucu kan kalau FK Unpad ditutup gegara hanya karena tak punya RS sendiri.Atau akreditasinya diturunkan.

Eh, tapi siapa bilang, Unpad belum punya RSP? Ada, kok. Namanya RSP Unpad. Lokasinya di jalan Prof Eyckman 38, Bandung. Banyak yang mungkin belum tau karena RSP ini diintegrasikan dengan RSHS. Di laman resminya dijelaskan, 

...Rumah Sakit Pendidikan Unpad akan menjadi salah satu bagian dari RSHS yang pelayanannya dimaksudkan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan dan penelitian kedokteran dalam bidang infeksi dan onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Tapi, kan, yang diusulkan Kang Emil beda lagi. RS Unpad yang di Jatinangor dan berdiri sendiri seperti punya sejumlah PTN yang sudah disebut di atas.

Kalau Unpad segera punya RS sendiri di Jatinangor tentu Unpaders yang kuliah di fakultas kedokteran bakal lebih optimal dalam melaksanakan pendidikan kedokterannya. Riset dan pendidikan bakal lebih leluasa. Dan, bonusnya, mobilitas Jatinangor-Bandung bisa dikurangi pula. Lumayan, kan dari sisi waktu dan tenaga.

Sudah bener banget kalau baru sekarang lagi digulirkan rencana membangun RS di kampus Unpad Jatinangor.  Apalagi rumah sakit umum yang sekelas RSHS (tipe A). Kalau rumah sakit itu sudah ada sejak 3 atau 4 tahun lalu,  nanti bisa-bisa timbul ide Sumedang dan sekitarnya jadi provinsi tersendiri. Kalau RS-nya  tipe B, jangan-jangan Jatinangor dan sekitarnya minta naik tingkat jadi kabupaten baru.

Kalo gegara ada RS terus ada yang nuntut pemekaran wilayah, kasihan kan mendagri dan gubernurnya. Mereka bakal sibuk banget dengerin pro-kontranya.

Sudah bener banget Kang Emil melontarkan kembali ide ini. Mengingatkan kita, ide baik itu memang bertahan lama. Sejak 1990an awal, ide ini sudah menjalar,  sekurangnya jadi omongan para mahasiswa. Dan, begitu terus hingga sekarang, bahkan ketika FK Unpad juga sudah punya gedung perkuliahan di kampus Jatinangor. Dan, juga sebuah klinik di lokasi yang sama.

Ide yang baik memang sekukuh karang. Tak lapuk di dunia yang, kata om Gidden, sedang berlarian tunggang langgang. Tak seperti kamu di hati dia. Yang segera berlalu setelah dua purnama. Ups.

KOMENTAR ANDA

IKA Unpad di Puncak Sibayak

Sebelumnya

Ketua ICCIA: Hadapi Pandemi Covid-19, Tak Ada Ruang untuk Pesimis

Berikutnya

Artikel Aktual