post image
Ketua Umum IKA Unpad Irawati Hermawan saat meluncurkan konferensi internasional vaksin Covid-19/RMOL Jabar
KOMENTAR

Pemerintah dan masyarakat dihadapkan kepada dilema saat harus memilih antara mengutamakan kesehatan atau ekonomi di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Ketika Pemerintah menerapkan PSBB terdapat kekhawatiran terhadap lumpuhnya sektor ekonomi. Sedangkan saat memberi keleluasaan kepada masyarakat untuk beraktivitas akan berdampak terhadap sebaran virus semakin masif.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad), Irawati Hermawan mengatakan, hal itu perlu diselesaikan dengan formulasi yang tepat. Mampu menangani pandemi Covid-19 sekaligus memulihkan ekonomi.

Atas dasar itu, pihaknya beserta Unpad menjalin kerja sama dengan Kadin dan The Islamic Chamber of Commerce, Industry, and Agriculture (ICCIA) untuk menyelenggarakan International Conference on Covid-19 Pandemic and Global Vaccine.

"Konferensi internasional akan dilaksanakan pada 23-25 Februari mendatang. Itu juga sebagai upaya menyediakan ruang bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan," kata Teh Irawati, sapaan akrabnya, Senin (4/1), dikutip Kantor Berita RMOLJabar.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, konferensi tersebut akan berfokus untuk menjawab terkait regulasi keamanan serta efektivitas vaksin, diplomasi Indonesia dalam penyediaan vaksin, regulasi dan sumber daya dalam penanganan pandemi.

Selain ketiga hal tersebut, konferensi itu juga akan menjawab pemulihan ekonomi pascapandemi dan kultur masyarakat terhadap penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Konferensi Internasional yang merupakan program Public Policy Analysis Center IKA Unpad itu akan mengundang sebagai keynote speech Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Kesehatan, Menteri Luar Negeri.

Selain dari jajaran menteri, IKA Unpad juga akan menghadirkan Menteri Kesehatan Saudi Arabia, Ketua Gugus Tugas Covid-19, Gubernur Jabar, ICCIA, Biofarma, akademisi, maupun dari sektor swasta terkait.

"Kegiatan ini akan mengundang narasumber maupun stakeholder yang memiliki concern terhadap lima isu tadi," jelasnya.

Adapun partisipan yang akan dihadirkan dalam kegiatan tersebut yakni Duta Besar negara-negara sahabat, Duta Besar negara-negara OKI, Perwakilan Islamic Development Bank (IsDB), akademisi (Nasional & Internasional), praktisi kesehatan (dokter, virologi, ahli vaksin, perawat), praktisi kebijakan publik, dan Komite Timur Tengah.

Sementara itu, Rektor Unpad, Rina Indiastuti menambahkan, pihaknya mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh IKA Unpad untuk melaksanakan konferensi tersebut. Pihaknya mendukung kegiatan tersebut sebagai kontribusi Unpad dalam menangani pandemi dalam skala regional maupun global.

"Kami berterima kasih kepada IKA Unpad, Biofarma, Kadin, dan ICCIA. Kita semua memiliki potensi yang besar untuk dapat berperan aktif menyelesaikan pandemi ini," tambahnya.

Sejak 2002 hingga saat ini Unpad menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan uji klinis vaksin. Hal itu dibuktikan dengan hampir semua vaksin yang beredar di Indonesia, uji klinis vaksin dilakukan oleh Unpad, termasuk uji klinis vaksin Covid-19 fase III yang saat ini berlangsung.

"Kurang lebih 30 jenis vaksin berhasil dilakukan uji klinis oleh Unpad, khususnya yang dilakukan oleh Prof. Kusnandi Rusmil dan tim dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad," beber Rektor Unpad.

Proses uji klinis vaksin Covid-19 yang dilakukan oleh Unpad telah mengikuti alur perencanaan dan produksi vaksin yang sudah ditetapkan di Indonesia.

Oleh karena itu, ia berharap Konferensi Internasional tersebut dapat menghasilkan masukan dan rekomendasi. Sehingga dapat memberikan solusi dalam menangani pandemi di Indonesia maupun global.

KOMENTAR ANDA

IKA Unpad di Puncak Sibayak

Sebelumnya

Ketua ICCIA: Hadapi Pandemi Covid-19, Tak Ada Ruang untuk Pesimis

Berikutnya

Baca Juga

Artikel Aktual