post image
Hidup berkelindan dalam suka-duka.
KOMENTAR

Tersebab hidup ibarat gedung. Yang tak semua memiliki lift atau eskalator. 

Maka:
Meski tak bisa berlari, kita tetap perlu bergerak. Setapak demi setapak. Meski tak bisa meloncat, kita tetap perlu naik, selangkah demi selangkah. Dari satu anak tangga menuju anak tangga berikutnya. Dari satu fase menuju fase berikutnya. Dari satu kemenangan menuju kekalahan berikutnya. Dari satu kekalahan menuju kejayaan berikutnya. Dari satu purnama menuju purnama berikutnya. Dari satu tugas menuju tugas berikutnya. Dari satu pengabdian menuju pengabdian berikutnya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ya. Tersebab hidup adalah perjalanan. Seperti naik gunung. Seperti lika-liku dan mendaki itu. 
Maka: Hidup tak benar-benar susah, sebagaimana hidup tak benar-benar mudah. 

Ya. Sebagaimana hidup tak benar-benar menang, sekaligus tak benar-benar kalah. Sesungguhnya, tafsir-tafsir yang "disepakati" secara sosial terhadap kemenangan dan kekalahan itulah yang membuat siapa yang disebut menang dan siapa yang disebut kalah.  

Hidup berkelindan dalam suka-duka, siang-malam, atas-bawah, hitam-putih. Bergulir dan bergilir. Menggelinding pada entah. Ragam kejutan yang tlah terlewati dan masih menanti.  
Patah. Tumbuh. Hilang. Berganti. 

Sebagaimana Forrest Gump, yang mengutip perkataan ibunya:
"Hidup itu seperti sekotak coklat. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan kamu dapatkan"

Jadi, tersebab hidup memang ada gitu-gitunya, maka:
Be patient. Keep looking.  And be kind. Always.

KOMENTAR ANDA

IKA Unpad di Puncak Sibayak

Sebelumnya

Ketua ICCIA: Hadapi Pandemi Covid-19, Tak Ada Ruang untuk Pesimis

Berikutnya

Artikel Aktual