post image
Ilustrasi puisi. /Pixabay/DarkWorkX
KOMENTAR

Ia turun sebagai tabir di mimpi setiap orang,
Mencuat isyarat tanpa bentuk layu di ujung daun tidurnya,
Tidur di bawah meja dengan selimut membentang sampai dengan syurga,
Tapi seketika ia menuju neraka bersama seorang wanita.

Sedang kekasihnya, diam di balik nyawa para lembayung senja,
Menanti sajak-sajak terkirim menuju syurga,
Sajak yang ia terbangkan sudah menantinya di dekapan Tuhan.

Siapa yang hendak melawan keterasingan dari para pecinta dunia?
Sedang kekasihnya hanya diam di bawah meja,
Siapa pula yang hendak mencium pipi ibunda?
Sedang ibundanya telah hilang menuju syugra.

Sempurna pikirannya menyentuh jagat syurga,
Sempurna hatinya menyentuh jagat neraka,
Sedang Kekasihnya melamunkan kuasa Sang Dewa,
Maka ia diam dan benar-benar terperdaya.

KOMENTAR ANDA

"Seandainya Tuan Datang Lebih Awal?"

Berikutnya

Artikel Rumentang Siang