post image
Warga Italia, sejak bulan Mei, mulai menerapkan gaya hidup kelaziman baru dengan masker ketika bepergian dan beraktivitas di luar rumah.
KOMENTAR

Tahun ini wabah menghajar Italia, negara yang sangat bergantung pada turisme dan berbagai acara internasional tahunan ini terpaksa harus menutup diri secara nasional pada Maret 2020. Bagai orang yang sekujur tubuhnya luka parah luar dan dalam dan harus terbaring di ruang perawatan ICU, begitulah situasi Italia selama bulan Maret hingga April, perayaan Paskah tak pernah sesendu tahun 2020. Tidak ada misa besar dan tidak ada reuni keluarga. Semua tertahan di rumah dan berusaha untuk bermobilisasi seminimal mungkin.

Hari kemerdekaan Italia pada 25 April berlangsung dalam suasana duka akibat kehilangan dan korban jiwa yang begitu banyak. Pemerintah bagai dokter yang mencoba mencari bantuan transplantasi organ dengan meminta bantuan dana kepada Uni Eropa namun penolakan dari sesama negara anggota membuat Italia harus mengubah strategi fase dua yang tadinya akan bergantung pada bantuan dana internasional menjadi bergantung pada ekonomi dalam negeri.

Artinya secara bertahap sektor-sektor tertentu mulai dibuka perlahan. 27 April, perusahaan konstruksi yang dianggap dapat menerapkan protokol keamanan dan kesehatan serta penanda bangkitnya Italia kembali dibuka, PM Giuseppe Conte sendiri yang membuka kembali sebuah proyek konstruksi jembatan di Genova yang terpaksa ditutup karena wabah menjadi simbol bersatunya Italia

Setelah itu, setiap dua Minggu pemerintah mengukur dan melihat kemungkinan pembukaan pada sektor-sektor lain yang sangat spesifik agar pembukaan tidak terjadi secara serampangan dan tak terkontrol. Pada sektor retail, sektor yang dibuka pertama bukan mall melainkan toko alat tulis (cancelleria) dan toko peralatan bayi karena anak-anak membutuhkan peralatan pendukung untuk masa belajar mereka di rumah, demikian juga bayi-bayi yang punya kebutuhan spesifik.

Hari Republik pada 2 Juni dirayakan tanpa upacara besar, pemerintah menghadiahkan atraksi pesawat jet tempur di kota-kota yang dianggap telah melawan Covid-19 dengan sekuat tenaga, parade dilakukan sejak 25 Mei yaitu melintas di Codogno, Milan, Torino, Aosta. Lalu, 26 Mei, Genova - Firenze - Perugia - L’Aquila.Dianjutkan pada 27 Mei, Cagliari - Palermo.  Terus pada 28 Mei Catanzaro - Bari - Potenza - Napoli - Campobasso, lalu ditutup pada 29 Mei 29 di Loreto - Ancona – Bologna – Venezia – Trieste. 

Pada akhir Mei, kafe dan restoran boleh buka namun hanya melayani take away dan delivery service untuk mengurangi kemungkinan kerumunan. Selanjutnya pembukaan toko-toko secara umum dan juga salon. Memasuki pertengahan bulan Juni, sektor pariwisata perhotelan sudah boleh dibuka namun dengan protokol kebersihan yang super ketat dan hanya boleh mengisi kapasitas 50 persen saja, untuk mengurangi resiko berkumpul.

Saya sempat pergi ke tepi danau Garda dan merasakan betapa seriusnya pemerintah dan pengusaha wisata dalam upaya menerapkan protokol untuk membangun kepercayaan publik dan para turis mengaku bisa tenang menjalani liburan di masa pandemi karena hotel sangat apik, resik dan jarak berjauhan dengan klien lain sehingga lebih leluasa.

"Kolam renang jadi seperti kepunyaan pribadi karena klien lebih sedikit," kata suami saya.

Selanjutnya mulai dibuka gym (palestra) dan kursus mengendarai mobil. Dua tempat ini menerapkan sistem prenotasi melalui app, agar jumlah klien/murid yang datang tidak melampaui kapasitas. Selain itu ketika tiba di lokasi, semua harus bersedia diukur suhu tubuh dan dicatat namanya, lalu membersihkan tangan dengan disinfectant. Saya pribadi malah lebih nyaman, karena tidak ada lagi situasi dimana gym terlalu penuh dan alat-alat atau space kolam renang dipakai semua oleh klien lain, selain itu ada durasi yang harus ditepati, hidup jadi lebih efisien dan terencana.

Bulan Juni akhir sekolah musim panas dibuka! Tapi dengan protokol Covid-19, kapasitas oratorio yang biasanya 400, ditekan hingga hanya 87 anak saja, karena oratorio biasanya dikoordinasi gereja maka yang diutamakan adalah anak-anak jemaah dan anak-anak yang tinggal dekat dengan lokasi. Anak saya memiliki dua kategori tersebut dan puji syukur bisa ikut. Kegiatan oratorio yang biasanya dikombinasikan dengan kegiatan tour ke luar kota atau visit kolam renang dan taman ria, ditiadakan.

Semua kegiatan dilakukan di dalam struktur gereja san sangat selektif hanya mengakomodasi kegiatan yang tidak menimbulkan terlalu banyak kerumunan. Tak hanya soal temperatur, orang tua harus menyertakan surat pernyataan yang menyatakan anak dan anggota keluarga tidak memiliki simptom Covid-19 dimana surat ini harus disertakan, setiap hari! Pintu masuk pun dibagi dalam beberapa titik agar tidak ada perkumpulan manusia saat mendrop anak anak.

Anak saya yang tadinya hanya mau ikut program oratorio satu Minggu karena sepertinya tahun ini kegiatannya akan membosankan, pada akhir Minggu merengak dan meminta perpanjangan hingga dua minggu selanjutnya. Jadilah tahun ini dia ikut sekolah musim panas tiga minggu berturut-turut. Kata anak saya, kegiatannya bernyanyi, menari, main bola, menggambar, membuat kerajinan, semua kegiatan itu harus dilaksanakan dengan mematuhi protokol yaitu pakai masker dan selalu rajin cuci tangan.

Tidak ada kasus Covid-19 ditemukan diantara para peserta dan instruktur juga para Romo, selama menjalani kegiatan ini. Puji Tuhan Bulan Agustus mulai tiba, hari ini rasanya seperti keajaiaban, kami bisa ada di pantai padahal kalau ingat bulan April rasanya semua tak mungkin.

Buah kerja keras itu mulai terasa, sektor pariwisata kembali berdenyut meski tanpa wisatawan asing. "Waktunya bagi orang Italia, untuk mengekplorasi negerinya sendiri," demikian pemerintah mendengungkan pesan kampanye turisme lokal.

Setelah upaya keras Pemerintah Italia untuk melobi sambil memperlihatkan perkembangan terbaru dan melihat tendensi di dunia internasional, kabar baik mulai didapat dari Komisi Uni Eropa, yaitu akan ada kucuran dana bagi anggota anggota yang tersungkur karena Covid-19. Gairah hidup orang Italia kembali bergelora. Seorang pengusaha bar dan kursi pantai mengatakan, tahun ini di luar dugaan situasi berjalan sangat baik.

"Bulan Juni, Juli tidak begitu buruk dan Agustus ini saya full, tadinya kami tidak tahu apakah sektor ini akan bergerak, ternyata lumayan," ujarnya.

Ia mengatakan biasanya ada 150 payung dengan dua kursi namun karena Covid-19, ada peraturan menjaga jarak sosial sehingga dia harus mengurangi kapasitas menjadi 115 payung saja.

"Hari ini resmi, semua kursi habis dipesan klien" ujarnya berseri-seri diiringi sinar mentari pagi yang menyembul dengan hangat dan sukacita.

Riset di Milan menyebutkan virus mati oleh sinar ultraviolet, maka orang Italia yang memang sangat memahami kebaikan-kebaikan sang mentari musim panas, semakin khusyuk dengan ritual mereka, menikmati sebanyak mungkin kebaikan mentari sejak pagi hingga mentari terbenam.

"Bekerja dan mencari nafkah adalah kewajiban, namun tetirah buat tubuh dan jiwa adalah cara manusia menghargai hidup, " demikian prinsip keseharian mereka.

Perang dengan Covid-19 tampaknya baru memasuki babak kesatu, sementara ini angka kembali memperlihatkan tendensi naik, di beberapa kota dan jika terus demikian maka semua akan bersiap-siap lagi dengan perang babak kedua.

Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesehatan, kesabaran dan ketekunan, mencintai riset dan ilmu pengetahuan, menghormati sejarah dan menghargai tindak kebaikan sesama manusia, siapapun mereka.

Rieska Wulandari - Jurnalis mukim di Milan sedang tetirah di tepi pantai, dekat kota Ravenna, Italia.

KOMENTAR ANDA

Kelebihan dan Kekurangan 3 Alat Tes Corona di Indonesia. Rapid Test Tidak Akurat?

Sebelumnya

Kuda Renggong, Atraksi Seni dari Sumedang

Berikutnya

Artikel Aktual