post image
Pendidikan vokasi dan industri diharuskan menjalin simbiosis mutualisme (Foto: Pixabay)
KOMENTAR

Hubungan antara pendidikan dengan industri kian dipererat, terutama pendidikan vokasi. Para lulusan pendidikan vokasi, seperti Sekolah Menengkah Kejuruan (SMK), diharuskan menjadi bagian dari industri. Hal ini diungkapkan langsung oleh Wakil Ketua Komite Tetap Pelatihan Ketenagakerjaan KADIN Miftahudin.

“Kita ingin agar anak-anak SMK begitu lulus harus bisa menjadi bagian dari industri. Jadi, mereka selama magang atau praktik kerja industri tidak disuruh bikin teh atau kopi atau fotokopi materi,” ujar Miftahudin dalam perilisan program Upskilling dan Reskilling guru SMK, dikutip dari Antara.

Miftahudin mengingatkan agar para siswa SMK yang menjalani program magang agar diperkenalkan dengan ekosistem di dunia industri. Oleh sebab itu, hubungan antara SMK dan industri menjadi simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan.

“Jadi, itu sebetulnya yang selama ini dicari oleh industri itu adalah kemampuan untuk belajar yang selama ini tidak ada di kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah juga tidak melibatkan industri,” papar Miftahudin.

Kerjasama yang baik antara SMK dan industri terus diupayakan. Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia dan Dunia Industri Kemendikbud, Ahmad Saufi, menyebut pihaknya akan terus menggali hingga menemukan solusi tepat untuk kendala dalam hubungan kerja sama SMK dan industri.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemendikbud adalah membuat program untuk meningkatkan kemampuan dan peningkatan kemampuan guru SMK. Tak hanya itu, Kemendikbud juga menyalurkan bantuan untuk SMK yang meliputi fasilitas pembentukan pusat karir siswa atau bursa kerja khusus (BKK) SMK untuk 80 SMK, fasilitas pembentukan tempat uji kompetensi SMK berstandar industri bagi 100 SMK, dan lain-lain.

Saufi meyakinkan bahwa semua program yang dikeluarkan oleh Kemendikbud akan sejalan dengan tujuan simbiosis mutualisme antara pendidikan vokasi dengan industri. “Setiap program bagi SMK dipastikan pola pikir SDMnya sudah berubah menjadi terbuka. Bukan lagi SMK yang kaku. Dengan begitu, ‘pernikahan massal’ ini akan berlangsung dengan baik,” ungkap Saufi.

Pentingnya kerja sama antara pendidikan vokasi dengan industri ditekankan pula oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Nadiem menyebut kerjasama ini dengan istilah “pernikahan massal” karena menunjukkan komitmen yang permanen di antara kedua pihak.

“Menurut saya pernikahan massal ini analogi yang tepat karena menunjukkan komitmen yang permanen. Vokasi baru akan lengkap dengan kehadiran praktisi dan kurikulum yang mengikuti kebutuhan dari industri,” ujar Nadiem, dikutip dari Tribunnews.

Nadien merancang hubungan pendidikan vokasi dan industri tidak hanya kesepakatan namun memiliki komitmen yang kuat sehingga menghasilkan lulusan pendidikan vokasi yang berkualitas dan siap untuk terjun ke dunia industri.

KOMENTAR ANDA

Irawati Hermawan: Prof. Mochtar Kusumaatmadja Sangat Layak Jadi Pahlawan Nasional

Sebelumnya

Menlu Retno: Bagi Saya Prof. Mochtar Kusumaatmadja Sudah Seorang Pahlawan

Berikutnya

Artikel Aktual