post image
KOMENTAR

Aku pernah bercengkrama dengan dinginnya fajar
Bersenda-gurau dengan hangatnya senja di pertengahan Mei
Atau, sekadar saling bertegur sapa dengan luasnnya semesta alam?
Diantara ketiganya ada yang mampu membuatku tersenyum dalam diam.
Seketika redup dalam angin malam yang entah dimana (ia) bermuara.
Hilang.

Padanya aku bercerita,
tentang bagaimana riuhnya mendengar deru hujan,
tentang sejuknya memandang keselarasan warna yang diukir setelahnya,
tentang dia yang hanya mampir sesaat sebelum langit menjadi gelap,
atau, hanya sekedar bercerita tentang langkahku yang terhenti dipersimpangan jalan yang ragu untuk memilih,
kiri?
ataupun, kanan?

Sesederhana itu meski terdengar cukup bising di telinga.
Padanya, semesta seru sekalian alam.
Padamu, makhluk Tuhan yang hingga kini ingin ku sebut "wanitaku''.
Dariku, jangan pernah berhenti untuk tersenyum.

 

Bandung, 7 Februari 2019

KOMENTAR ANDA

Menghitung Mati

Sebelumnya

Adalah Bandung, Adakah Bandung?

Berikutnya

Artikel Rumentang Siang